Pramuka Gugus Depan Perguruan Tinggi, Polemik Titik Temu Minat Mahasiswa

Hello Genk!

Selamat datang di Rubrik kami, Kakak pembaca semua!

Rubrik Humas Racana Brawijaya yang pastinya membahas informasi dan ulasan menarik seputar Kepramukaan Pandega dan hal seru lainnya.

Gugus depan pramuka perguruan tinggi merupakan satu satuan pendidikan dengan kombinasi keanggotan dengan kisaran umur pramuka penegak dan pramuka pandega. Sehingga untuk menyatukan pola pembinaannya maka digunakanlah PP POLMEKBIN T/D di dalamnya.

Gugus depan perguruan tinggi sebenarnya memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gugus depan lainnya, yaitu memiliki Tri Darma Perguruan Tinggi sebagai acauan dan landasan dalam menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan kegiatannya. Dengan begitu, maka tujuan dan sasaran gugus depan perguruan tinggi dapat satu arah dengan sistem pendidikan di perguruan tinggi itu sendiri.

Perkembangan zaman yang terjadi tak ayal juga berdampak pada perkembangan sistem kepramukaan yang ada. Apalagi jika dilihat dari keadaan saat ini, dimana sistem pembelajaran yang ada disesuaikan dengan pandemi Covid-19 yang masih terus menghantui seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Dengan tantangan keadaan yang ada saat ini, pramuka perguruan tinggi di lain sisi juga memiliki polemik nyata yang masih terus terjadi sejak dahulu, yaitu kurangnya minat para mahasiswa untuk bergabung dalam kepramukaan tingkat racana. Jika ditelisik, ada beberapa faktor yang dapat menjadi alasan minimnya minat kepramukaan dari para mahasiswa :

Akulturasi Asal Daerah

Mahasiswa merupakan pelajar tingkat universitas yang berasal dari setiap jengkal di Indonesia dengan adat dan kebudayaan serta background Sekolah Menengah Atas yang berbeda sebelumnya. Jika ditarik garis kemungkinan, maka tidak semua Sekolah Menengah Atas memiliki basis kepramukaan yang memadai, sesuai dengan aturan, dan cukup membahagiakan. Bisa jadi, banyak mahasiswa yang merasa bahwa kegiatan pramuka adalah kegiatan yang merepotkan, monoton, dan sulit mengambil manfaat serta tidak menyenangkan akibat dari pembelajaran kepramukaan yang tidak kondusif semasa sekolah sebelumnya. Juga tidak seperti tingkatan sekolah yang mewajibkan keikutsertaan pada pramuka, hal ini dapat berakibat pada sudut pandang mahasiswa yang menganggap pramuka bukanlah suatu hal yang cukup berbobot untuk menjadi pilihan kegiatan di universitas.

Tidak Adanya Kegiatan Offline

Bagi sebagian orang, mengikuti pramuka adalah bentuk harapan agar dapat berkegiatan di lapangan, bersenang-senang dengan banyak agenda outdoor sebagai momen ‘liburan’ dari aktivitas belajar dan mengerjakan banyak tugas yang terkadang terasa melelahkan dan membuat penat.

Namun, pandemi membuat kegiatan pramuka juga sebatas virtual, harus beradaptasi seperti sistem pembelajaran atau organisasi yang lainnya. Terlihat tak akan memenuhi fantasi kebahagiaan tanpa kegiatan outdoor, dari sini dipastikan banyak mahasiswa yang kurang memiliki semangat untuk bergabung di kepramukaan.

Tidak Aktifnya Gugus Depan Perguruan Tinggi

Pengemasan kegiatan kepramukaan yang menarik menjadi hal penting dalam pelaksanaan pembinaan dalam gugus depan. Selain untuk menarik perhatian dari para generasi baru, tentu jika kualitas kepramukaan mumpuni, hal ini dapat berdampak baik terhadap tingkat prestasi yang didapatkan untuk gugus depan tersebut.

Lain halnya jika sebuah gugus depan tak memiliki prestasi, tak ada pembina yang dapat membangkitkan suasana, dan tak adanya track record sejarah keberhasilannya dalama menyelenggarakan kepramukaan, ini akan mudah berdampak pada kecilnya minat anak muda sebagai agen regenerasi berpotensial bagi gugus depan.

Tantangan terpelik saat ini adalah efektivitas dari kegiatan online tidak bisa menjadi jaminan. Minimnya interaksi, membuat kinerja dari setiap organisasi menjadi rapuh. Masalah utama yang ditimbulkan adalah kelengkapan anggota organisasi setiap adanya kumpul musyawarah atau sekadar anjangsana setiap divisi akan selalu tidak bisa full team. Jika dibiarkan, hal seperti ini akan menjadi awal dari tidak adanya kerja sama yang baik antar anggota karena menghilang dari keaktifannya secara online.

Penggambaran dampak negatif dari sulitnya pembelajaran masa pandemi salah satunya adalah peralihan online ke offline yang menjadikan para pembina harus segera beradaptasi untuk dapat melaksanakan pengajaran dengan metode yang tepat sehingga pembelajaran secara tatap muka dapat diikuti oleh siswa dengan baik. Tetapi, pada suatu kasus, dimana ada salah satu gugus depan yang melaksanakan kegiatan di alam sekitar, yaitu susur sungai di suatu daerah ternyata berujung tragedi. Dari video komentar masyarakat yang viral mengatakan bahwa dari pihak pembina yang tidak piawai dalam bidang kegiatan tersebut, hal terpenting dalam pelaksanaan kegiatan berbau alam adalah adanya orang yang mumpuni untuk membaca keadaan sekitar, memahami risiko setiap faktor keselamatan yang ada, dan juga berpengalaman dalam survei maupun memahami medan yang akan ditempuh. Kurangnya pelatihan secara nyata kepada para pembina pun bisa menjadi salah satu faktor kurangnya kontrol kegiatan kepramukaan tersebut.

Hal semacam ini dapat menjadi pembelajaran penting para pramuka racana agar dapat bersikap lebih dewasa pada setiap keputusan kegiatan yang diambil di setiap bidang kepramukaan mereka. Menjadi pribadi yang cepat tanggap atas segala sesuatu merupakan karakter kaum muda hebat yang diharapkan tebentuk dengan adanya kepramukaan di perguruan tinggi. Contohnya, dari berbagai masalah atau tantangan dalam kepramukaan online, pramuka perguruan tinggi sejatinya dapat mengambil dampak positif yaitu dapat melebarkan sayap dari kiprah kinerja racana, dengan cara pelaksanaan kegiatan yang dikoordinir oleh anggota di masing-masing daerah.

Selain itu, kegiatan berbasis online dapat menjadi refleksi dari riuhnya persiapan kepanitiaan jika hendak melaksanakan acara, karena dapat melaksanakan kegiatan tanpa perlu persiapan lebih pada bagian perlengkapan, konsumsi, dan lain sebagainya.

Pembaharuan di bidang kepramukaan saat ini dapat semakin menunjang pembelajaran hybrid dan pembelajaran untuk anak-anak ‘zaman now’. Salah satu dari pembaharuan tersebut adalah adanya pembentukan Saka Milenial, dimana saka ini merupakan saka yang mengedepankan dalam update dan mendalami penyebaran informasi agar terus membawa pramuka pada pergerakan zaman.

Berbagai hal positif yang dapat diambil selama pembelajaran pandemi, bisa menjadi ujung tombak sebagai ‘gaya baru’ bagi gugus depan perguruan tinggi karena dapat menyesuaikan pandangan anak muda saat ini. Pengemasan kepramukaan yang lebih menyenangkan walau dalam lingkup serba online, akan jadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa yang memiliki daya juang tinggi dalam keingintahuannya yang lebih untuk explore kemampuan organisasinya.

Pun sebagai calon-calon regenerasi kepramukaan di gugus depan perguruan tinggi, para mahasiswa harus senantiasa meningkatkan kualitas diri dari segi karakter, seni, emosional, dan kemampuan hard skill kepramukaan agar dapat mengangkat nama dari gugus depan perguruan tinggi dan menjadi percontohan serta panutan yang baik bagi mahasiswa lainnya sehingga menggambarkan bahwa kepramukaan tingkat perguruan tinggi merupakan program luar biasa yang dapat membekali diri menjadi kader pemimpin yang baik bagi masyarakat.

 

Penulis Artikel : Fareena (Diksarpram 40)

Bagikan ke :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top